TfClTSA0GfroTUC5GUd9TUC8BA==

INDRAMAYU: Ketika Bahasa dan Tradisi Membentuk Identitas

 

M Tegar Arief Fuady Alfadhil

INDRAMAYU sering dikenali dari logatnya yang terdengar keras. Cara bicaranya lugas, ceplas-ceplos, dan tanpa banyak basa-basi.

 

Tidak sedikit orang luar yang kemudian menilai masyarakat Indramayu kasar atau kurang santun.

 

Padahal, penilaian semacam itu lahir dari sudut pandang yang tidak memahami konteks budaya lokal.

 

Bagi masyarakat Indramayu, bahasa bukan alat untuk menyembunyikan maksud, melainkan sarana menyampaikan kenyataan apa adanya.

 

Bahasa Dermayon tumbuh dari kehidupan pesisir dan agraris yang menuntut komunikasi jelas dan efisien.

 

Di sawah dan di laut, orang tidak punya banyak ruang untuk berbasa-basi. Bahasa harus cepat dipahami, dan itulah sebabnya bahasa Dermayon terdengar lugas dan tegas.

Namun, persoalan bahasa di Indramayu hari ini tidak berhenti pada soal logat dan stereotip.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah semakin jarangnya bahasa Dermayon—terutama ragam krama Dermayu—digunakan dan diajarkan dalam keluarga.

 

Tidak sedikit orang tua di Indramayu yang kini lebih memilih langsung mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anak mereka.

 

Bahasa daerah perlahan ditinggalkan, bahkan kadang dianggap tidak perlu.

 

Fenomena ini sering kali lahir dari rasa malu. Sebagian orang tua khawatir anaknya dianggap “kampungan” jika menggunakan bahasa daerah.

 

Ada pula anggapan bahwa bahasa Indonesia lebih modern, lebih bergengsi, dan lebih menjanjikan masa depan.

 

Tanpa disadari, sikap ini justru mempercepat proses tergerusnya bahasa lokal.

 

Bahasa Dermayon dan krama Dermayu tidak kalah oleh zaman semata, tetapi ditinggalkan oleh penuturnya sendiri.

 

Padahal, dalam dunia pendidikan, bahasa daerah bukanlah penghambat kemajuan.

 

Justru sebaliknya. Banyak kajian kebahasaan menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dengan bahasa ibu yang kuat memiliki fondasi kognitif dan identitas yang lebih kokoh.

 

Bahasa daerah berfungsi sebagai jembatan awal untuk memahami dunia, membangun karakter, dan menanamkan nilai-nilai budaya sejak dini.

 

Kondisi ini seharusnya menjadi perhatian bersama, terutama bagi keluarga dan dunia pendidikan.

 

Orang tua memegang peran paling awal dan paling penting. Mengajarkan bahasa Dermayon di rumah tidak berarti menutup akses anak terhadap bahasa Indonesia.

 

Keduanya bisa berjalan beriringan. Anak dapat tumbuh sebagai penutur bahasa Indonesia yang baik tanpa harus kehilangan bahasa daerahnya.

 

Sekolah juga memiliki peran strategis. Bahasa dan budaya lokal bisa dihadirkan melalui muatan lokal, kegiatan literasi, atau pembelajaran berbasis proyek budaya.

 

Tidak harus selalu formal dan kaku. Cerita rakyat Indramayu, lagu daerah, atau praktik budaya lokal bisa menjadi pintu masuk yang menyenangkan bagi anak-anak untuk mengenal identitasnya sendiri.

 

Di luar itu, ruang-ruang publik dan media lokal juga berperan penting. Media daring Indramayu, misalnya, dapat menjadi sarana merawat bahasa dan budaya lokal dengan cara yang relevan dengan generasi muda.

 

Konten berbahasa Dermayon, cerita budaya, atau refleksi tentang tradisi lokal dapat membuat bahasa daerah kembali hidup dalam keseharian.

 

Jika bahasa Dermayon dan krama Dermayu benar-benar hilang, yang lenyap bukan hanya kosakata, tetapi cara pandang, nilai, dan ingatan kolektif masyarakat Indramayu.

 

Bahasa adalah rumah budaya. Ketika bahasa ditinggalkan, rumah itu perlahan kosong.

 

Indramayu hari ini berada di persimpangan. Ia bisa memilih menjadi daerah yang kehilangan jejak budayanya, atau menjadi wilayah yang mampu merawat identitas sambil bergerak mengikuti zaman.

 

Pilihan itu tidak hanya ada di tangan pemerintah atau lembaga pendidikan, tetapi juga di ruang-ruang kecil: di rumah, di sekolah, dan di percakapan sehari-hari.

 

Bahasa dan tradisi tidak akan bertahan hanya dengan slogan pelestarian. Ia bertahan ketika digunakan, diajarkan, dan dihargai. Dan di Indramayu, proses itu seharusnya dimulai dari keberanian untuk tidak malu pada bahasa sendiri. (*)

 

Oleh: M. Tegar Arief Fuady Alfadhil, Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang

 

Artikel ini merupakan pendapat atau karya pribadi penulis. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih-Redaksi)

Komentar0

Simak artikel pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih kanal favoritmu! Akses berita Proinbar.com lewat:

Advertisement


Type above and press Enter to search.

close
close