![]() |
| M Tegar Arief Fuady Alfadhil |
DI BANYAK RUANG KELAS, pemandangan yang sama terus berulang.
Buku dibuka, teks dibaca, guru menjelaskan, siswa mencatat. Jam pelajaran berakhir dengan rapi dan teratur.
Semua tampak berjalan sesuai rencana, tetapi ada sesuatu yang tertinggal. Sastra hadir di ruang kelas, namun tidak benar-benar hidup.
Pola ini saya temui di banyak sekolah. Ruang kelasnya berbeda, tetapi suasananya serupa dan nadanya sama.
Sastra diperlakukan sebagai kewajiban kurikulum, bukan sebagai pengalaman belajar yang bermakna.
Siswa diminta mengetahui isi cerita, tetapi jarang diajak menyelami maknanya.
Mereka mengenal tokoh, alur, dan latar, namun tidak pernah diajak bertanya apa arti cerita itu bagi hidup mereka.
Padahal, sastra tidak lahir dari ruang kosong dan pikiran yang netral. Ia tumbuh dari pengalaman hidup, kegelisahan zaman, dan keberanian untuk bersuara.
Dalam perjalanan bangsa ini, sastra pernah menjadi cara berpikir, bersikap, dan memaknai kenyataan.
Kata-kata tidak sekadar dirangkai untuk keindahan, melainkan dihadirkan sebagai sikap terhadap kehidupan dan kebangsaan.
Chairil Anwar menulis dengan keberanian dan daya hidup yang kuat.
Dalam puisinya, ia menegaskan tekad untuk terus hidup dan terus bersuara di tengah zaman.
Pramoedya Ananta Toer bahkan mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa tulisan akan lenyap dari ingatan masyarakat dan sejarah.
Bagi Pramoedya, sastra bukan sekadar karya, melainkan tanggung jawab intelektual dan sikap hidup.
Semangat semacam itu terasa semakin menjauh dari ruang kelas hari ini.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, sastra kerap dipersempit menjadi urusan teknis dan struktural.
Tokoh siapa, alurnya bagaimana, latarnya di mana, semuanya dibedah dengan cermat.
Semua itu penting, tetapi tidak pernah cukup. Ketika pembelajaran berhenti di sana, sastra kehilangan denyut dan rasanya.
Ironisnya, siswa hari ini hidup di tengah dunia yang penuh cerita. Mereka tumbuh bersama kisah di rumah, lagu-lagu yang menyentuh perasaan, dan narasi yang hadir melalui layar gawai.
Mereka mampu larut dalam cerita dalam waktu yang lama dan penuh perhatian.
Namun, ketertarikan itu sering memudar ketika sastra hadir sebagai pelajaran di ruang kelas.
Di sinilah persoalan sesungguhnya muncul. Masalahnya bukan karena anak-anak tidak menyukai sastra atau cerita.
Masalahnya terletak pada cara sastra disajikan dan diperlakukan.
Di sekolah, sastra sering ditempatkan sebagai pelajaran dengan jawaban tunggal dan penilaian kaku.
Padahal, kekuatan sastra justru hidup dalam perbedaan tafsir dan pengalaman pembaca.
Dalam banyak kelas, siswa lebih sering menjadi pendengar yang pasif.
Mereka menerima penjelasan, tetapi jarang diberi ruang untuk berbicara.
Mereka mendengar jawaban, tetapi jarang diajak mengajukan pertanyaan.
Mereka membaca cerita, tetapi jarang diminta mengaitkannya dengan pengalaman hidup mereka sendiri.
Sastra pun terasa jauh, kaku, dan asing dari kehidupan.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, kita berisiko melahirkan generasi yang mengenal sastra sebagai pelajaran semata.
Mereka memahami istilah dan struktur, tetapi tidak merasakan kekuatannya.
Sastra yang dahulu menjadi ruang perenungan dan kepekaan perlahan tereduksi menjadi kumpulan materi ujian.
Di titik inilah pembelajaran sastra membutuhkan napas baru dan arah yang lebih manusiawi.
Perubahan itu bukan semata soal metode atau media. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang.
Sastra tidak cukup diajarkan untuk dipahami, tetapi perlu dialami.
Perubahan ini dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana. Setelah membaca cerita, guru tidak harus langsung menanyakan isi dan unsur.
Guru dapat mengajak siswa berbagi perasaan dan pengalaman.
Bagian mana yang paling menyentuh, tokoh mana yang terasa dekat, dan peristiwa apa yang mengingatkan mereka pada hidup sendiri.
Pertanyaan semacam ini mengubah kelas menjadi ruang dialog yang hidup.
Teknologi pun dapat menjadi jembatan yang mendekatkan sastra dengan kehidupan siswa.
Puisi tidak hanya dibaca, tetapi dihidupkan melalui suara dan ekspresi.
Cerita tidak hanya diringkas, tetapi dituturkan ulang dengan latar yang dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Dengan cara ini, sastra perlahan turun dari buku ke kehidupan nyata.
Pendekatan semacam ini tidak menuntut fasilitas mewah atau teknologi canggih.
Yang dibutuhkan adalah keberanian guru untuk memberi ruang. Ruang untuk berbicara, ruang untuk berbeda tafsir, dan ruang untuk merasakan.
Ketika siswa merasa aman mengekspresikan diri, keterlibatan mereka tumbuh secara alami dan jujur.
Sastra seharusnya membentuk kepekaan, bukan sekadar menambah pengetahuan.
Sastra membantu manusia memahami diri, memahami orang lain, dan memahami dunia dengan lebih utuh.
Pendidikan hari ini perlu mengembalikan sastra ke tempat asalnya. Bukan sebagai pelajaran hafalan, melainkan sebagai pengalaman belajar yang memiliki rasa dan makna.
Di sanalah sastra akan kembali bersuara dan hadir bukan sebagai pelengkap saja. (*)
Penulis: M Tegar Arief Fuady Alfadhil, Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang.
Artikel ini merupakan pendapat atau karya pribadi penulis. Seluruh isi
artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih-Redaksi)
