![]() |
| Logo SMSI/Ist |
MENUTUP tahun 2025, Serikat
Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Indramayu menyampaikan keprihatinan
mendalam terhadap kondisi bisnis media lokal yang kian terpuruk dan kehilangan
arah.
Alih-alih tumbuh dan
beradaptasi dengan perubahan zaman, sebagian besar media justru terseok dalam
tekanan ekonomi, regulasi yang belum berpihak, serta persaingan digital yang
tidak sehat.
Transformasi digital
yang seharusnya menjadi peluang, dalam praktiknya belum sepenuhnya mampu
dimanfaatkan oleh media lokal.
Ketergantungan pada
iklan pemerintah masih sangat tinggi, sementara kemampuan membangun model
bisnis alternatif—seperti konten berbayar, kolaborasi bisnis, hingga penguatan
branding—masih terbatas.
Akibatnya, media
berjalan tanpa peta jalan yang jelas, hanya bertahan dari satu momentum ke
momentum berikutnya.
Di sisi lain,
ekosistem informasi juga menghadapi tantangan serius.
Maraknya konten instan
di media sosial, algoritma platform global, serta banjir informasi yang tidak
terverifikasi telah menggerus nilai jurnalisme berkualitas.
Media yang menjunjung
etika dan profesionalisme justru kerap kalah cepat dan kalah menarik dibanding
konten sensasional yang minim tanggung jawab.
SMSI Indramayu
memandang bahwa kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut.
Diperlukan langkah
bersama dan terukur untuk menata ulang arah bisnis media.
Pemerintah daerah
diharapkan tidak hanya melihat media sebagai alat publikasi, tetapi sebagai
mitra strategis pembangunan demokrasi dan literasi publik.
Dukungan kebijakan,
transparansi anggaran informasi publik, serta skema kerja sama yang adil dan
profesional menjadi kebutuhan mendesak.
Di internal media
sendiri, evaluasi dan keberanian berbenah juga mutlak dilakukan.
Media harus mulai
berinvestasi pada kualitas sumber daya manusia, inovasi konten, dan pemanfaatan
teknologi secara cerdas.
Tanpa itu, media lokal
hanya akan menjadi penonton di daerahnya sendiri.
Refleksi akhir tahun
ini menjadi pengingat bahwa masa depan media tidak ditentukan oleh keluhan,
tetapi oleh keseriusan membaca perubahan dan keberanian mengambil arah baru.
Tahun 2026 harus
menjadi titik balik—dari bisnis media yang terseok tanpa arah, menuju media
lokal yang berdaulat, profesional, dan berkelanjutan.
Owner Media Fokus
Pantura ini, mengakui bahwa hingga akhir tahun 2025 bisnis media lokal di
Indramayu masih belum memiliki kepastian arah yang jelas.
Padahal, Media Fokus
Pantura sendiri telah dikelola secara konsisten sejak tahun 2017.
Menurut Ihsan,
dinamika industri media di daerah justru semakin kompleks seiring menjamurnya
portal media baru dengan pertumbuhan yang sangat pesat, namun tidak diiringi
dengan tata kelola bisnis yang sehat dan ekosistem yang berkeadilan.
Kondisi tersebut
berdampak langsung pada media yang telah lebih dulu berdiri dan berupaya
menjaga profesionalisme jurnalistik.
“Banyak media baru
bermunculan, tetapi tidak semua dibangun dengan fondasi bisnis dan etika
jurnalistik yang kuat. Akibatnya, terjadi persaingan yang tidak seimbang, dan
media yang serius justru semakin sulit mendapatkan kepastian usaha,” ujar Ihsan
Mahfudz dalam refleksi akhir tahun 2025.
Ia menilai, hingga
saat ini belum ada skema kebijakan daerah yang benar-benar mampu menata
ekosistem media secara berkelanjutan.
Media lokal masih
bergantung pada pola kerja sama konvensional, sementara peluang pengembangan
model bisnis digital belum sepenuhnya terakses.
Karena itu SMSI Indramayu, mendorong
adanya penataan ulang industri media daerah, baik melalui peningkatan literasi
media, standarisasi perusahaan pers, hingga keberpihakan kebijakan yang
mendorong media profesional agar dapat tumbuh sehat dan berdaya saing.
Refleksi ini menjadi
catatan penting bahwa tanpa arah kebijakan dan kesadaran bersama, bisnis media
lokal berpotensi terus berjalan di tempat, meski jumlah portal media terus
bertambah dari tahun ke tahun. (*)
Oleh : Ihsan Mahfudz, penulis
adalah Ketua SMSI Indramayu.
Artikel ini merupakan pendapat atau karya
pribadi penulis. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis.
(Terimakasih-Redaksi)

Komentar0