![]() |
| Screenshoot tayangan Debat Publik Calon Bupati dan Wakil Bupati Indramayu 2024/Foto Ist |
DEBAT PUBLIK pasangan calon bupati dan wakil bupati Indramayu yang dilaksanakan pada Senin, 4 Nopember 2024 di Hotel Holiday Inn, Pasteur Bandung ini sangat dinanti.
Di tengah viralnya video rivalitas pasangan calon (paslon) 02 Lucky Hakim-Syaefuddin dan paslon 03 Nina Agustina-Tobroni.
Tetapi kita melihat, debat sangat sejuk, rasional dan berbasis data—tanpa dengan emosional—bahkan Nina Agustina juga begitu santun dalam menyampaikan program dan menanggapi pertanyaan pasangan calon lain pada sesi tanya jawab.
Walaupun beberapa kali Lucky Hakim mencoba untuk ‘memancing’ kebijakan yang dilakukan oleh Nina Agustina ketika menjabat sebagai bupati.
Misalnya ketika ditanyakan oleh Bambang Hermanto tentang prestasi apa yang sudah dilakukan oleh Lucky Hakim ketika menjadi wakil bupati?
Dengan tangkas Lucky Hakim menyatakan bahwa satu tahun menjabat hanya tiga kali diberikan pendelegasian, dan tidak ada kerja lain apalagi pertanggungjawaban wakil bupati kepada bupati.
Jadi bagaimana ingin menjelaskan tentang prestasi kalau tidak diberikan pendelegasian.
Pada sesi tanya jawab, kebetulan pasangan 03 Nina Agustina-Tobroni kepada pasangan 02 Lucky Hakim-Syaifuddin; tentang strategi yang akan dilakukan terkait dengan pelayanan kesehatan.
Lucky Hakim menyampaikan dimulai dengan profesionalisme pegawai, tidak boleh lagi ada rangkap jabatan—apalagi jabatan itu bukan kompetensinya—dan pelayanan prima, terutama bantuan kepada masyarakat miskin.
Lucky menunjukkan fakta ada masyarakat miskin, dua anaknya stunting tetapi tidak mendapat bantuan, ironisnya rumahnya tidak jauh dari rumah pribadi bupati di Losarang.
Adu Program
Tiga paslon menyampaikan visi-misinya masing-masing. Pasangan Bambang Hermanto-Kasan Basari mengawalinya dengan prolog Indramayu menjadi salah satu penyangga ketahanan pangan nasional.
Tetapi masih menghadapi persoalan IPM Indramayu yang rendah, pendidikan yang masih tertinggal dan menjadi daerah termiskin di Jawa-Barat.
Kemudian menguraikan visi-misinya menuju Indramayu yang BERKAH.
Sedangkan Lucky Hakim-Syaefuddin mengawali pemaparan visi-misinya dengan menguraikan bahwa mengelola pemerintahan tidak seperti mengelola kerajaan.
Bupati bukanlah seorang raja yang ingin dihormati, dipatuhi dan dilayani oleh rakyatnya.
Bupati dan wakilnya diberikan fasilitas yang sangat mewah dan gaji yang cukup besar dari uang rakyat karenanya bupati dan wakilnya harus memposisikan dirinya sebagai pelayan rakyat.
Pasangan ini kemudian berkomitmen untuk menjadi pelayan rakyat dengan mewujudkan Indramayu yang aman, kondusif dan berkolaborasi.
Tidak boleh bupati yang bersolo karir dengan menebar ketakutan.
Misalnya sedikit-sedikit dipecat, lapor polisi, jabatan kosong atau politisasi ASN. Pasangan ini dengan mengusung jargon visine wong Reang, Bebarengan Beberes Dermayu.
Pasangan Nina Agustina-Tobroni menguraikan visi-misinya untuk melanjutkan Indramayu Bermartabat dan tujuh tatanan menuju masyarakat Indramayu yang sejahtera.
Karena masa kerja yang hanya 3,5 tahun dirasa tidak cukup untuk merealisasikan secara optimal visi-misi yang diusungnya apalagi di awal masa jabatannya diterpa musibah covid-19.
Mewujudkan Indramayu bermartabat ini juga dengan menyelaraskan program pemerintah pusat yakni Indonesia Emas 2045.
Menariknya untuk meningkatkan kualitas moral dan mental masyarakat Indramayu, Bambang-Kasan menawarkan program di bidang pendidikan beasiswa berprestasi bagi keluarga yang tidak mampu.
Alokasi stimulant bagi pondok pesantren, insentif guru madrasah, imam masjid dan marbot, peningkatan SDM sesuai dengan pasar kerja.
Pasangan Lucky-Syaefuddin menyoroti lama pendidikan di Indramayu belum sampai 7 tahun, kriminalitas dan perceraian yang cukup tinggi.
Sehingga perlu ada stressing pada aspek kualitas moral dan mental masyarakat Indramayu.
Sedangkan pasangan Nina-Tobroni untuk memperkuat nilai-nilai persatuan ditopang dengan Sumpah Pemuda, Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Pendidikan harus diupayakan untuk memperkokoh itu semua dan melalui Indramayu Bermartabat menjadi penopangnya.
Banyak hal yang diperdebatkan pada sesi dialog selanjutnya. Misalnya, inovasi dan pengembangan untuk memajukan daerah, pemetaan masalah dan sosialisasi persoalan daerah.
Kemudian peningkatan kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat, optimalisasi pelayanan publik kepada masyarakat dan lainnya yang kemudin diuraikan oleh para calon secara normatif.
Kata-kata Penutup
Bambang Hermanto-Kasan Basari menutup debat ini—seperti yang pernah diuraikan oleh Anies Baswedan—dengan mengutip QS: Ali Imron: 26 “Katakanlah (Muhammad), Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki”.
Lucky Hakim-Syaefuddin; Menyampaikan program, tidak ada persaingan dan sentimen pribadi tetapi persaingan politik sehingga hari ini berkompetisi setelah momen ini berkawan kembali.
Nina Agustina-Tobroni, beristiqamah untuk melanjutkan komitmen pembangunan, pemimpin harus amanah, kepemimpinan akan dipertanggungjawabkan dan sintemen pribadi harus dikesampingkan demi keutuhan dan kesejahteraan masyarakat Indramayu.
Catatan Pinggir
Pada debat terbuka calon bupati dan wakil bupati Indramayu 2024, fokus pada adu gagasan antara tiga pasangan kandidat menarik untuk ditelaah dari berbagai sisi.
Terutama untuk memahami visi mereka terkait isu-isu sentral yang dihadapi Indramayu, seperti pengentasan kemiskinan dan profesionalisme aparatur negara.
Pertama, Pasangan Bambang Hermanto-Kasan Basari.
Pasangan ini menekankan pada pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan ekonomi lokal, misalnya dengan mengoptimalkan sektor pertanian dan kelautan yang kuat di Indramayu.
Pendekatan mereka bisa mencakup pelibatan UMKM dan bantuan modal bagi usaha kecil untuk menurunkan angka kemiskinan.
Kedua, Pasangan Lucky Hakim-Syaefuddin.
Pasangan ini masih menyoroti kebijakan yang berfokus pada pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin.
Mereka menawarkan solusi konkret seperti program pelatihan bagi masyarakat serta alokasi anggaran untuk pendidikan dan kesehatan sebagai cara mendukung mobilitas ekonomi masyarakat.
Ketiga, Pasangan Nina Agustina-Tobroni.
Karena Nina Agustina memiliki pengalaman sebelumnya sebagai Bupati, analisis dapat menyoroti kebijakan yang telah diimplementasikan selama masa jabatannya.
Nina akan mempertahankan kebijakan yang berorientasi pada pengentasan kemiskinan dengan program bantuan sosial, walaupun efektivitas dan keberlanjutannya perlu dievaluasi lebih lanjut.
Selain itu, isu profesionalisme pegawai yang diangkat, terutama karena rangkap jabatan dan penempatan ASN yang kurang sesuai keahlian dapat menurunkan kualitas pelayanan publik.
Nina kemungkinan juga akan membela kebijakan pengaturan ASN-nya dengan menekankan reformasi birokrasi yang telah ia rencanakan, atau menyoroti hambatan-hambatan yang ia hadapi dalam menata birokrasi selama masa jabatannya.
Debat ini kurang mengeksplore gagasan dan harapan public Indramayu, masih sangat normatif.
Terjebak pada janji yang tidak realistik—terutama dari sisi upaya konkrit menaikkan IPM dan keterpurukan Indramayu yang belum beranjak dari kemiskinan.
Ini disadari memang karena politisi itu ada karena berjanji, dan janji dengan realisasi bagi seorang politisi adalah dua hal yang berbeda.
Kita akan tunggu, apakah performa ketiga pasangan calon ini pada debat terbuka akan secara signifikan akan berpengaruh terhadap perolehan suara atau mengalami stagnasi seperti hasil survey yang tidak terlalu berpengaruh pada pilihan konstituen? (*)
Oleh: MASDUKI DURYAT, Penulis adalah dosen Pascasarjana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dan tinggal di Kandanghaur Indramayu
Artikel ini merupakan pendapat atau karya pribadi penulis. Seluruh isi
artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih-Redaksi).
