![]() |
| Wamentrans Viva Yoga Mauladi melaksanakan ziarah dan tabur bunga di makam pionir transmigrasi Sukra, Selasa (10/12/2024)/Foto Ist |
PROINBAR.COM, SUKRA - Wakil
Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi bersama mengadakan ziarah dan tabur bunga ke makam para
pionir transmigrasi yang terletak di Kecamatan Sukra, Selasa (10/12/2024).
Kegiatan ini dilakukan
sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa besar mereka dalam membuka jalan bagi
program transmigrasi di Indonesia.
Ziarah ini diawali
dengan prosesi upacara, Wamentrans Viva Yoga Mauladi bertindak sebagai Inspektur Upacara.
Ziarah juga diikuti
jajaran Kementerian Transmigrasi (Kementrans), Forkopimda Kabupaten Indramayu, ASN, TNI, Polri
dan perwakilan masyarakat.
Seusai ziarah kemudian
dilanjutkan dengan bakti sosial berupa penyerahan santunan bagi penjaga makam,
keluarga ahli waris, dan anak yatim di sekitar makam.
Dalam kesempatan itu, Wamentrans Viva Yoga Mauladi menyampaikan bahwa perjuangan
para pionir transmigrasi telah menjadi fondasi penting bagi pemerataan
pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah
terpencil dan minim akses.
"Kita berada di
sini untuk mengenang jasa para pionir yang telah memberikan sumbangsih besar
dalam menghidupkan program transmigrasi. Semangat mereka menjadi inspirasi
untuk terus memajukan daerah-daerah tujuan transmigrasi," terangnya.
Melalui kegiatan
ziarah ini, pemerintah berharap masyarakat tidak hanya mengenang jasa para
pionir. Tetapi juga melanjutkan
semangat gotong-royong untuk membangun Indonesia yang lebih baik.
Sekilas Sejarah Pioneer Transmigrasi di Sukra
Pada awal tahun 1950-an,
Kecamatan Sukra menjadi salah satu lokasi strategis dalam pelaksanaan program
transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah.
Program ini bertujuan
untuk mengurangi kepadatan penduduk di Jawa serta membuka lahan baru untuk
pertanian dan pemukiman.
Para pionir
transmigrasi di Sukra, yang sebagian besar berasal dari Pulau Jawa, menghadapi
berbagai tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur, hutan lebat, dan
minimnya sarana komunikasi.
Namun, dengan semangat
pantang menyerah, mereka berhasil mengubah wilayah ini menjadi salah satu pusat
pertanian yang produktif.
Makam para pionir ini
menjadi simbol perjuangan mereka dalam mendukung pembangunan bangsa.
Hingga kini, warisan
semangat mereka terus dikenang dan menjadi motivasi bagi generasi penerus.
Kegiatan ziarah ke
makam pionir transmigrasi adalah agenda rutin setiap tahun yang merupakan upaya
untuk mengenang peristiwa kecelakaan salah satu rombongan bus transmigran asal
Kabupaten Boyolali menuju UPT Rumbiya, Sumatera Selatan, yang terjadi pada tanggal
11 Maret 1974 dini hari di Desa Sukra, Kabupaten Indramayu.
Dalam peristiwa ini
mengakibatkan korban meninggal sebanyak 67 orang yang merupakan awal mula
program transmigrasi yang dijalankan oleh pemerintah sebagai langkah untuk
penyebaran pembangunan di Indonesia. (JPI/rls)
