![]() |
| Presiden RI, Prabowo Subianto/Foto Ist |
PRO NASIONAL, KARAWANG - Presiden Prabowo Subianto resmi mengumumkan
tercapainya swasembada pangan nasional.
Pengumuman itu disampaikan dalam kegiatan Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Desa Kertamukti, Kecamatan Cilebar, Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).
“Dengan mengucap bismillah pada 7 Januari
2026, saya Presiden Prabowo Subianto mengumumkan telah tercapainya swasembada
pangan bagi rakyat Indonesia,” ucap Presiden Prabowo.
Indonesia mencapai puncak kejayaan pangan
pada 1984 dengan swasembada beras, didukung cadangan beras sebesar 2 juta ton.
Atas capaian tersebut, pada 1985 Presiden
Soeharto diundang berpidato di Roma oleh Food and Agriculture Organization
(FAO) dan menerima penghargaan internasional, bahkan menyerahkan bantuan beras
kepada negara-negara Afrika, yang menempatkan Indonesia sebagai simbol
kemandirian pangan dan solidaritas global.
“Terima kasih atas kehormatan yang diberikan
kepada saya, saya diundang panen raya dan pengumuman resmi bahwa Indonesia
berhasil kembali menjadi bangsa yang swasembada pangan,” ucapnya.
Kini, lebih dari empat dekade berselang,
sejarah kejayaan itu kembali terulang.
Berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) amatan
November 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi produksi beras nasional
tahun 2025 mencapai 34,71 juta ton, melampaui kebutuhan domestik tahunan.
“Waktu saya dilantik saya beri target
swasembada 4 tahun. Terima kasih seluruh komunitas pertanian. Saudara bekerja
keras saudara kompak hasilkan satu tahun kita sudah swasembada, satu tahun kita
sudah berdiri di atas kaki sendiri, satu tahun kita tidak tergantung bangsa
lain,” ungkapnya.
Keberhasilan swasembada turut membawa dampak
signifikan terhadap pasar dunia.
Penghentian impor beras oleh Indonesia
menekan permintaan internasional dan mendorong harga beras dunia turun tajam
dari sekitar USD 660 per metrik ton menjadi USD 368 per metrik ton, atau turun
44,2 persen.
Tercapainya swasembada pangan didukung
langkah peningkatan produksi yang masif dan terintegrasi.
Melalui intensifikasi, pemerintah memperkuat
benih unggul, pompanisasi, optimasi lahan, irigasi, modernisasi pertanian,
serta peremajaan alsintan, sementara dari sisi ekstensifikasi pemerintah
mempercepat cetak sawah baru.
Khusus penyaluran pupuk bersubsidi, terbitnya
Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15
Tahun 2025 menjadi terobosan penting melalui penyederhanaan 145 regulasi dan
penurunan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20 persen.
Keberhasilan swasembada pangan juga diperkuat
kebijakan agresif penyerapan gabah petani.
Perum BULOG ditugaskan membeli gabah langsung
di lapangan dengan skema any quality seharga Rp6.500 per kilogram, yang
mendorong pengadaan beras 2025 menjadi yang terbesar sepanjang sejarah.
Selain meningkatkan pendapatan petani,
kebijakan ini mendorong lonjakan cadangan beras pemerintah hingga rekor 4,2
juta ton pada Juni 2025, dengan stok saat ini berada di kisaran 3,24 juta ton
seiring penyaluran untuk penanganan bencana dan pengendalian harga.
Capaian swasembada pangan juga berdampak
langsung pada kesejahteraan petani.
Nilai Tukar Petani (NTP) Desember 2025
tercatat 125,35, tertinggi sepanjang sejarah, dengan rata-rata NTP 2025
mencapai 123,26 atau tertinggi dalam 33 tahun terakhir.
Dari sisi ekonomi makro, sektor pertanian
mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 10,52 persen pada
triwulan I 2025, tertinggi dalam 15 tahun terakhir, sekaligus menegaskan
perannya sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional.
Seluruh capaian tersebut merupakan hasil
kerja kolektif lintas sektor.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman
menegaskan bahwa keberhasilan swasembada pangan merupakan buah dari sinergi
nasional yang kuat.
“Kami terima kasih kepada semua pihak,
kementerian/lembaga lain, TNI/Polri, asosiasi petani, BUMN Pangan, dan seluruh
petani Indonesia. Sebab, swasembada pangan bukan hanya dari kami tapi dari
sinergi seluruh putra anak bangsa,” ucap Mentan Amran.
“Atas nama petani Indonesia, kami mengucapkan
terima kasih tak terhingga kepada Bapak Presiden. Harga gabah naik, harga pupuk
turun, ketersediaan pupuk banyak. Sekali lagi, swasembada ini kerja terbaik
Kabinet Merah Putih dari gagasan Presiden dan seluruh petani Indonesia,”
ungkapnya.
(rlskementanri)

Komentar0